Membangun Bargaining Position di Keluarga

Berkaitan dengan keluarga, masing-masing individu mempunyai kondisi yang beragam, ada yang latar belakang nya ustadz, ada yang benar-benar awam. Tips berikut mungkin bisa diadopsi sahabat, untuk keluarga masing-masing terkait dakwah kita ke mereka.

Untuk sahabat yang dikasih kesempatan hidup bersama orang tua, itu sebenarnya nikmat tersendiri, karena Alloh memberikan kita banyak waktu untuk berinteraksi dengan mereka. Adalah sebuah kewajaran kalau orang tua kita bertanya macam-macam mengindera perubahan yang terjad pada diri kita, misalkan kenapa sih kamu pakai jilbab, kenapa harus pakai kaos kaki padahal cuma disuruh beli cabe di depan rumah?? Ya,,,kita sampaikan argumentasi syar’i, biar orang tua mengerti hukum menutup aurot seperti apa. Bukan argumen yang berdasarkan manfaat, misal pakai kaos kaki supaya ga dingin. Ini yang pertama.

Kedua, Ketika orang tua sedang menghadapi masalah, kita juga harus menunjukkan care pada mereka. Misalkan, ikut memberi solusi terhadap permasalahan tersebut. Ya, terkadang argumen kita belum bisa diterima oleh mereka, karena menganggap kita masih kecil, tapi kalau kita terus menerus menunjukkan kepedulian kita, senantiasa memberikan solusi buat persoalan mereka, lama-lama mereka juga akan memberikan ruang untuk kita dan memori itu akan terekam kuat di benak mereka.

Ketiga, konsistensi dengan apa yang kita pegang dalam menjalankan syariat Islam. Ini akan membuka pikiran orang tua. Sebaliknya dengan inkonsistensi kita, misalkan kita ngotot pakai jilbab, suatu saat malah buka jilbab, maka orang tua akan ragu dengan kita. Mereka pikir kita pakai jilbab cuma main-main. Maka sampaikan, kewajiban berjilbab dan konsisten dengan hal itu. Pernah suatu ketika, tetangga rumah saya nanya ke ibu saya, “itu anak ibu dipesantrenkan di mana? Kok beda pakaiannya dengan anak-anak sebayanya?” Lalu jawab ibu saya, “enggak, dipesantrenkan. Si Eneng ikut pengajian sama Hizbut Tahrir”. Jadi, terbuka saja, kita mau ngaji dimana, mau ikut aksi juga sampaikan saja. Alamiah saja. Kita tetap menyampaikan bahwa kita itu masih tetap anak mereka, tapi punya cara berfikir yang berbeda. Tentu penyampaiannya dengan bahasa-bahasa yang bisa sahabat adopsi sesuai dengan keluarga masing-masing. Jangan sampai mereka merasa asing dengan kita, kita sering keluar tapi ga pernah komunikasi dengan ortu, kita dapat apa di luar sana. Misalkan, kita haris ikut kajian, ya sampaikan …”ini bu, dari acara bahas tentang peran muslimah dalam Islam. Ternyata peran muslimah itu seperti ini, seperti itu.” Jadi, orang tua kita pun ga mikir aneh-aneh dan bingung. Jangan sampai setelah ngaji kita jadi orang yang ga care sama ortu, sedikit-sedikit mengkritik, maksa-maksa tanpa ada komunikasi sebelumnya. Sebenarnya kritikan-kritikan itu tanda sayang kita sama ortu, tapi kalau tidak diawali dengan step yang baik, justru akan mendapat respon yang buruk.

Baktinya anak sama orang tua tidak harus dengan beliin mobil, rumah, dll. Itu akan membebani kita sendiri. Yang diwajibkan Alloh adalah birrul wallidain. Kita menyibukkan diri untuk perkara-perkara yang disyariatkan oleh Alloh. Kalau mobil, rumah itu kan materi, ya..boleh lah kalau kita berlebih, tapi jangan sampai membebani diri dengan hal-hal itu dan justru melupakan hal yang pokok, yakni dakwah ke orang tua. Birrul wallidain harus sesuai dengan tuntunan Islam, jangan sampai alasan birrul wallidai, tapi dakwah ditinggalkan. Alloh kan ga pernah menyuruh birrul wallidain dengan membelikan mobil.

Birrul wallidain adalah mendakwahi mereka, men-share apa yang kita tahu. Akan kerasa sakitnya, kalau kita ga optimal mendakwahi orang tua kita, misalkan mereka sudah meninggal, mobil, rumah itu ga dibawa mati, tapi yang dibawa beliau-beliau adalah amal sholih. Kalau kita benar-benar sayang ke keluarga, kita juga optimal dan terus berusaha.

Min Uyunil Ummah,
Feb 2013, 22

About these ads

One thought on “Membangun Bargaining Position di Keluarga

  1. Pingback: Membangun Bargaining Position di Keluarga | Kilau Bintang Menerangi Bumi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s